Usai Datangi DPC PDI-Perjuangan Kukar, Aliansi Tiga Ormas Lanjutkan Aksi di DPRD
Aksi demonstrasi di depan kantor DPRD Kukar oleh aliansi tiga ormas daerah.
(Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Aksi lanjutan terkait polemik kepemimpinan Ketua DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kembali digelar oleh aliansi tiga organisasi masyarakat (Ormas), Senin (25/5/2026).
Setelah mendatangi Kantor DPC PDI-P Kukar,
massa aksi bergerak menuju Kantor DPRD Kukar untuk menyampaikan aspirasi
sekaligus meminta penjelasan terkait sejumlah persoalan yang dinilai menjadi perhatian
masyarakat.
Aliansi yang terdiri dari Remaong Kutai
Berjaya (RKB), Remaong Kutai Menamang (RKM), dan Bubuhan Kayuh Baimbai itu
menggelar aksi Jilid II dengan membawa beberapa tuntutan.
Massa aksi menyoroti polemik penertiban Tahura
Bukit Soeharto, transparansi anggaran, dugaan penggunaan fasilitas daerah,
hingga meminta penjelasan terkait sejumlah kebijakan yang dianggap mencederai
marwah daerah.
Perwakilan aliansi sekaligus Ketua DPC RKM
Kukar, Jordi, mengatakan aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian
terhadap kondisi Kukar dan sebagai upaya menyampaikan keresahan masyarakat
secara langsung kepada DPRD Kukar.
Menurutnya, pihak aliansi ingin memastikan
setiap persoalan yang berkembang dapat dijelaskan secara terbuka agar tidak
menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
“Kami sangat berterima kasih diterima lagi di
Jilid II ini di kantor DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara yang sangat kita
cintai,” ujarnya saat menyampaikan orasi.
Jordi menjelaskan, pihaknya sebelumnya telah
melakukan pertemuan dengan sejumlah fraksi di DPRD Kukar sebelum melanjutkan
aksi di halaman kantor dewan.
Dalam pertemuan tersebut, aliansi menyampaikan
sejumlah kritik terhadap kepemimpinan Ketua DPRD Kukar yang dinilai menimbulkan
polemik di masyarakat.
Ia menilai persoalan yang berkembang saat ini
tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dikhawatirkan dapat memicu
ketegangan sosial di daerah.
Jordi juga mengingatkan agar masyarakat tidak
sampai terpecah akibat polemik yang terjadi.
“Jangan sampai kami diadu domba. Kalau sudah
kesukuan, bukan kami lagi yang turun, tapi seluruh masyarakat yang ada di Kukar
pasti turun,” kata dia.
Selain menyuarakan tuntutan, Jordi juga
menyoroti adanya disposisi yang disebut menggunakan fasilitas pemerintah tanpa
koordinasi dengan pihak terkait.
Ia mengaku pihaknya mendapatkan informasi
bahwa fasilitas daerah digunakan tanpa melalui mekanisme dan izin yang jelas.
Menurutnya, hal tersebut perlu mendapat penjelasan
resmi agar tidak menjadi persoalan buruk di kemudian hari.
Ia juga meminta DPRD Kukar lebih berhati-hati
dalam memverifikasi administrasi maupun penggunaan fasilitas daerah.
“Yang kami cari tahu kemarin ternyata ada
disposisi beliau (Ketua DPRD Kukar) memakai fasilitas daerah. Dari pihak
kepolisian, dari pihak TNI, koordinasi tidak ada sama sekali,” tegasnya.
Jordi mengatakan, aksi yang digelar saat ini
sebenarnya masih dilakukan secara terbatas oleh tiga aliansi ormas daerah. Ia
mengungkapkan masih banyak organisasi lain yang ingin ikut bergabung, namun
untuk sementara pihaknya memilih menahan agar situasi tetap kondusif.
Meski demikian, ia berharap seluruh persoalan
yang dipersoalkan massa aksi dapat segera mendapatkan penjelasan dan
penyelesaian.
Ia juga mengingatkan agar polemik yang terjadi
tidak berkembang hingga memunculkan aksi lanjutan yang lebih besar.
Menanggapi aspirasi massa aksi, Pelaksana
Tugas (Plt.) Sekretaris DPRD Kukar, Lukman, mewakili DPRD Kukar menyampaikan
bahwa pihak sekretariat menerima seluruh kritik dan masukan yang disampaikan.
Ia mengakui terdapat kelemahan dari sisi
administrasi dalam proses yang dipersoalkan massa aksi.
Menurut Lukman, pihak sekretariat sebelumnya
menganggap disposisi yang diterbitkan pimpinan DPRD telah melalui proses
verifikasi. Namun setelah adanya polemik yang berkembang, pihaknya menyadari
masih terdapat kekurangan dalam proses administrasi tersebut.
“Artinya kami menerima dan mengakui itu adalah
kelemahan kami dalam melihat sisi administrasinya,” kata dia.
Ia menegaskan DPRD Kukar menerima seluruh
kritik yang disampaikan masyarakat sebagai bahan evaluasi ke depan.
Pihaknya juga membuka ruang komunikasi dan
sinergi dengan tokoh masyarakat maupun organisasi daerah agar persoalan serupa
tidak kembali terjadi.
“Kami meminta maaf dan kami siap akan
memperbaikinya,” ujarnya.
Selain itu, Lukman memastikan DPRD Kukar akan
lebih berhati-hati dalam menjalankan proses administrasi dan koordinasi ke
depan.
Ia berharap komunikasi antara DPRD dan masyarakat tetap terjaga dengan baik demi menciptakan situasi daerah yang kondusif.“Kami siap menerima masukan, kritikan, dan melakukan sinergi sehingga Kutai Kartanegara bisa menjadi lebih baik lagi,” tutupnya. (kriz)